PT IMS Logistics Blog

Automating Supply Chain

SIFAT MANAJER MEMENGARUHI CITRA DIRI


artikel by Fikri C Wardana

 

Sudah menjadi kebiasaan di banyak perusahaan saat bulan puasa mengadakan  buka bersama setidaknya sekali dalam bulan Ramadan. Entah dengan cara memanggil katering dan menyajikan dalam berbentuk prasmanan yang lengkap mulai dari takjil, menu utama hingga makanan penutup atau cukup dengan nasi kotak dan takjilnya saja. Semuanya tentu menyenangkan karyawan baik yang menjalankan ibadah puasa maupun yang tidak. Ada yang melakukan dengan cara lain yaitu dengan cara mengajak karyawan makan di suatu restoran tertentu. Apa hubungan judul manajer di atas dengan masalah buka bersama?

 

Ada seorang manajer yang menunjuk seorang anak buahnya untuk mencari restoran yang masih dapat menampung belasan orang untuk buka bersama. Maka berangkatlah A (yang menerima tugas) ditemani B dan C (kasir yang ditugaskan membawa uang kontan untuk membayar). Setelah melihat dan bertanya ke 3 restoran maka hanya restoran yang ke 3 yang masih ada tempat. Maka dikirimkan pesang singkat (SMS) ke manajer bahwa di restoran PQR telah disediakan tempat yang memadai. Namun alih-alih dia merespon SMS yang diterimanya, ternyata sang manajer BBM an dengan C, jika tempat buka bersama di restoran STU yang hanya beberapa meter jaraknya dari restoran PQR. Tentu saja A yang menerima tugas mencari restoran atau tempat buka bersama kaget dan merasa malu karena sudah memesan tempat dan sudah duduk dan bahkan restoranpun sudah menolak pelanggan lain yang mau masuk. Alhasil A ditemani B tetap duduk dan makan malam di PQR dengan biaya sendiri, karena sudah terlanjur pesan tempat ke restoran dan merasa tidak enak dengan pegawai restoran. Dan sang manajer dan anak buah lainnya buka bersama di STU tanpa mengindahkan ada anak buahnya yang tidak ikut bersamanya.

 

Apa yang dapat kita petik dari kisah nyata yang baru saja terjadi di Jakarta ini?

Sudah sewajarnya jika seorang manajer mendelegasikan tugas, apalagi tugas yang tak terlalu sulit. Namun jika dia kemudian mencabut pendelegasiannya tanpa memberitahukan kepada orang yang telah didelegasikannya, maka berarti manajer tersebut telah mencorengkan arang di mukanya sendiri. Sebuah noda yang tidak dia ketahui, namun tersebar luas di antara anak buahnya (bahkan orang luar perusahaan) jika manajemennya ’sedikit amburadul’.  Tidak menutup kemungkinan bahwa ia memenej pekerjaannyapun juga dengan cara seperti sebutan negatif di atas.

Agustus 6, 2013 - Posted by | Knowledge | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: