PT IMS Logistics Blog

Automating Supply Chain

Model Kepemimpinan Jawa


Oleh Wijanarko Kertowijoyo.

Kita selama belajar di Sekolah Dasar mungkin sudah sering mendengar Semboyan

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Semboyan ini telah lama digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara pada tahun 3 Juli 1922 pada waktu mendirikan Sekolah Taman Siswa yang diberi nama National Onderwijs Institut Taman Siswa.

Prinsip Dasarnya adalah:

  • Ing ngarsa sung tulada : ("(yang) di depan memberi teladan/contoh")
  • Ing madya mangun karsa : ("(yang)" di tengah membangun prakarsa/semangat")
  • Tut wuri handayani  : ("dari belakang mendukung").

ING NGARSA SUNG TULADA

Sebagai pemimpin / leader, sudah sepatutnya kita memberi contoh / tauladan ke bawahan. Jangan kita membuat aturan, tetapi dilanggar sendiri, berarti kita memberi contoh untuk melanggar peraturan.

Bawahan selalu meniru apa yang pemimpin lakukan. Oleh karena itu, untuk merubah suatu budaya yang jelek, harus dimulai dari pemimpinnya dulu untuk komit berubah sesuai budaya yang telah disepakati.

Contoh: Budaya 5R, pemimpin harus memberi contoh dengan berkelakukan 5R, walaupun saya rasa tidak bisa 100%, tetapi cukup berusaha untuk menjadikan budaya itu suatu Roh didalam jiwa kita agar kita tidak merasa keberatan untuk melakukannya.

Pemimpin harus memberikan contoh yang baik, Contoh: Jangan membawa permasalahan keluarga di dalam kerja. Jangan melemparkan kesalahan ke bawahan, tetapi ditelaah dan dirubah apa yang salah menjadi bagus dan menjadi strength. Jangan suka berkata2 kotor dan kasar. Harus bisa membedakan waktu untuk bergurau dan waktu bekerja.

 

ING MADYA MANGUN KARSA

Sebagai pemimpin, kita harus membangun semangat, memotivasi serta memberdayakan / EMPOWERING bawahan kita. Kita harus belajar menyebutkan Hasil Bagus adalah hasil dari Team. Berilah motivasi dan semangat agar mereka selalu bekerja dengan senang hati. Berdayakan bawahan kita agar bisa menjadi pengganti kita nanti. Regenerasi dengan pengkaderan sangat penting untuk kelanjutan kepemimpinan. Tularkan ilmu ke bawahan agar mereka bisa mengerjakan pekerjaan kita. Dengan begitu, delegasi akan berjalan. Berikan ruang kepada bawahan untuk berkembang dan berkreasi agar mereka berpikiran maju dan tidak menjadi the Doer / pelaksana aja. Mereka akan bisa lebih berimprovisasi, memperbaiki secara terus menerus / berkaizen.

 

TUT WURI HANDAYANI

Sebagai pemimpin, kita harus memberikan dukungan penuh kepada bawahan dan memberikan otoritas. Berilah mereka kesempatan untuk menjalankan plan mereka walaupun kita mempunyai plan tersendiri. Ini dimaksudkan agar dengan memberikan support agar mereka terbiasa untuk membuat plan dan membuat bagaimana caranya agar perusahaan lebih efisien dan lebih efektif yang ujung akhirnya adalah untuk menaikkan profit perusahaan.

 

Dasar semua Leader2 yang ada sekarang berpedoman dan berprinsip dasar dari semboyan ini Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,  saya rasa sudah mencakup semua apa yang diperlukan oleh seorang pemimpin dalam memimpin sebuah team.

Juli 13, 2011 - Posted by | Knowledge | , , , , , ,

2 Komentar »

  1. SUN TZU
    ” Kepanglimaan komandan menunjukkan kepada sifat sifat yang dimiliki panglima seperti kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian dan disiplin ”

    ” Ia dapat terbunuh, jika ia sembrono ”

    ” Jika ia pengecut, maka ia dapat tertawan”, Bila lekas marah, ia dapat dihasut “, Jika ia gila hormat, ia mudah dihina”

    “Bila ia terlalu perasa terhadap orang, ia mudah dapat digoda”

    “Kehancuran suatu tentara dan kematian panglimanya disebabkan oleh kelima kekurangan ini. Sebab itu perlu sekali untuk memahaminya dengan benar ”

    Berhati hati
    Kemampuan untuk membuat rencana
    Kemampuan untuk mengelola tentaranya
    Kemampuan untuk melaksanakan rencana dengan efektif

    Keberanian

    Pengendalian diri
    Seorang panglima tidak melakukan pertempuran karena rasa kebencian

    ” Sementara kemarahan dapat dikembalikan ke kebahagiaan dan kebencian dijadikan menyenangkan; suatu negara yang hancur tidak dapat dibangun kembali dan orang yang meninggal tidak dapat hidup kembali”

    Pragmatisme
    ” JIka situasinya menyenangkan, panglima harus tetap berperang meskipun penguasa mungkin sudah memerintahkan untuk tidak melibatkan diri. Jika situasinya menggambarkan kekalahan, maka panglima tidak boleh berperang walaupun penguasa mungkin sudah memerintahkannya demikian ”

    Ketulusan

    Tentara

    Pengendalian
    “Apabila panglima itu lemah dan tidak disiplin,jika pelatihan dan perintah tidak jelas , bila tugas dari perwira dan bawahan tidak berbeda, dan susunan pasukan itu lamban, maka hasilnya adalah disorganisasi mutlak”

    ” Jika seorang panglima membelai pasukannya tetapi tidak dapat menggunakannya; jika ia menyayangi mereka secara berlebihan tetapi tidak dapat memberikan perintah ; jika pasukannya tidak teratur tetapi ia tidak dapt mendisiplinkan mereka; maka mereka lebih mirip gerombolan yang dimanjakan dan tidak berguna sama sekali”

    Komentar oleh LIE.SUGIANTO | November 20, 2011 | Balas

    • dear pak lie sugianto,
      terimakasih atas penambahannya dari sisi Sun Tzu The Art of War. Semoga ini bermanfaat bagi kita semua….

      Untuk statement dibawah ini:
      ” JIka situasinya menyenangkan, panglima harus tetap berperang meskipun penguasa mungkin sudah memerintahkan untuk tidak melibatkan diri. Jika situasinya menggambarkan kekalahan, maka panglima tidak boleh berperang walaupun penguasa mungkin sudah memerintahkannya demikian ”

      Memang kadang menjadi dilema. Karena terkadang panglima tetap dipaksa dan diperintah untuk perang walaupun sudah pasti kalah, ini kadang mempunyai maksud tertentu dimana dalam strategi perang, ini untuk membuat musuh menjadi pongah, congkak, dan lupa diri sehingga mereka akan cenderung meremehkan.

      Serangan yang kedua baru benar2 mematikan.

      Tapi dasar dari semuanya ini adalah “Komunikasi”. kalau pemimpinnya mampu berkomunikasi maka panglima akan tetap menjalankan. Tetapi tidak semua rahasia yang bisa disharekan ke panglima, karena tidak semua panglima bisa dipercaya, hanya 1 atau dua saja.

      Oleh karena itu, seringkalinya pemimpin memerintahkan panglima yang terjelek dan terburuk ke medan perang agar kalah, sehingga membuat musuh pesta pora dan maka dengan mudah untuk dikalahkan.

      “Kalah belum tentu menjadi Kalah atau “Loser”, Kalah bisa merupakan taktik dan strategi untuk menjadi Pemenang”

      Thank you for the sharing and God Bless You.

      Komentar oleh WJ | November 21, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: