PT IMS Logistics Blog

Automating Supply Chain

SUKSES SEBAGAI ORANG KEDUA


Jika semua orang ingin menjadi nomer satu di dalam organisasi, lantas bagaiman dengan orang yang nomer dua. Inilah fenomena ‘Superman’. Superman bukan hanya fantasi anak-anak, tetapi juga menjadi kecenderungan manusiawi. Khalayak acap memuja sebuah figur, untuk sebuah hasil kerja keras sebuah kelompok, sebuah tim, kesebelasan, partai dan beragam organisasi lainnya.
Publik lebih mengenal Rod Steward dan kurang memperhatikan satu-persatu anggota Rolling Stones sebagai “orang kedua” . Publik sepakbola akan mengenal Pele, Maradona, Ruud Gullit dan para bintang lapangan hijau lainnya. Padahal kemenangan yang diraih merupakan hasil kerjasama dan kerja keras tim, yang secara tidak adil diabaikan oleh publik. Mereka adalah orang-orang kedua “tanpa nama”, yang kontribusinya sangat dibutuhkan oleh tim atau organisasi.

Pada masa awal kemerdekaan kita mengenal dwi tunggal Soekarno – Hatta, yang menurut sementara orang dipandang sebagai pasangan yang ideal. Soekarno sebagai soldarity maker, high profile, menggelora mempesonakan khalayak dengan ikatan emosional, sedangkan Moh. Hatta yang bertipe administratif, kalem, kelihatan rasional dan cenderung tidak terlalu ingin menonjol. Sayang pada akhirnya pasangan ini tidak bertahan untuk seterusnya. Namun hal masih lebih baik dibandingkan pasangan Mahathir-Anwar yang berakhir dengan rivalitas dan perseteruan politik. Sementara itu, pasangan Reagan-Bush, berakhir dengan happy ending. Ketika Reagan harus turun karena telah memegang dua kali jabatan, dengan mulus Reagan menyerahkan tongkat estafet kepada Bush.
Dalam merintis karir mungkin Anda akan berpikir untruk menjadi orang nomer satu dalam organisasi, seperti kata pepatah gantungkan cita-citamu setinggi langit. Cita-cita ini sama sekali tidak salah. Katakanlah setelah beberapa lama menekuni, karir di sebuah perusahaan dan Anda merasa jalan menjadi orang pertama terasa terjal dan berliku, dan kenyataan hanya satu orang anggota diantara ratusan bahkan ribuan anggota organisasi yang dapat menduduki posisi ini, Anda memutuskan membuka usaha sendiri agar menjadi orang pertama. Tentu ini langkah yang sangat bagus bagi karir Anda.
Namun jika Anda berpikir untuk menekuni di perusahaan yang sama, Anda mesti menyadari bahwa di dalam organisasi orang pertama hanya satu orang, dan Anda harus rela menjadi orang kedua. Bahkan jalan untuk menjadi orang pertama, acap mesti rela dahulu menjadi orang kedua.
Menjadi orang kedua tidak lebih mudah menjadi orang pertama, termasuk di dalamnya adalah bagaimana mengendalikan ego. Khalayak acapkali bertindak kurang adil, mereka hanya mengenal “orang nomor satu” dan mengelu-elukan sebagai bintang seolah-olah kontribusi mereka sebagai “orang kedua” tidak pernah ada. Henaan dan Bennis menemukan banyak “orang kedua” yang kontribusinya besar terhadap organisasi, tetapi sepi dari publisitas dan tenggelam dalam bayang-bayang popularitas “orang nomor satu” . Kita tentu akrab dengan Bill Gates si maharaja dalam dunia cyber. Di balik kesuksesan Bill Gates menakhkodai Microsoft, tak lepas dari dukungan orang keduanya, Steve Balmer, yang sama sekali asing buat kita. Apa boleh buat ‘orang kedua” harus menyesuaikan dengan kenyataan ini, dan mengendalikan egonya untuk menjadi orang yang tidak terkenal. Beberapa nama dalam bidang lain dapat pula kita sebut, seperti Chou En-lai disamping Ketua Mao, si pendiri Republik Rakyat Cina. Atau Win Smith di samping CEO Merril Lynch, Charlie Merrill.
Bagaimana memanajemeni “ego” – ego sendiri maupun ego sang bos-merupakan masalah utama untuk menjadi “orang kedua” yang baik. Langkah awal yang harus diperhatikan bagi “orang kedua” adalah mengenal dengan baik egonya sendiri, lantas memahami ego sang bos, dan menciptakan harmoni untuk meghindari clash of titan. Ingat sebagai bos, orang nomor satu mempunyai power untuk merubah kebiasaan yang ada, sementara anda tidak. Berikan ‘bos’ apa yang dibutuhkan dan diinginkan, tanpa “menjual’ jiwa anda, karena anda punya gagasan, pikiran, dan kehidupan pribadi sendiri. Tidak semua tindakan harus diartikan demi “orang nomor satu”. Temukan kebutuhan perusahaan, dan penuhi. Beri keseimbangan antara leadership dan followership. Temukan jalan anda sendiri, dan suatu saat dapat berkata “tidak” jika situasi memang menharuskan demikian. Definisikan juga apa makna kesuksesan bagi anda.
Dalam sebuah organisasi acapkali dibutuhkan seorang dirigen, tokoh kharismatik, seorang bintang, yang dielu-elukan keberadaannya dan “bertugas” mengarahkan gerak seluruh organisasi. Tapi seorang dirigen bukanlah seorang soloist. Mereka membutuhkan sekelompok “orang kedua” yang akan menopangnya. Orang-orang kedua yang tangguh ini harus ditumbuhkan dalam organisasi, melalui kultur co-leadership.
Lantas bagaimana menjadi orang kedua dalam konteks yang terakhir ? Yang paling penting adalah bagaimana menghayati peran Anda dalam organisasi (role awareness). Jika Anda seorang eksekutif (tetapi kebetulan tidak didapuk sebagai orang pertama) peran utamanya adalah sebagai pengambil keputusan. Bukankah asal kata executive dari kata execute.
Peran pengambil keputusan yang harus diemban seorang eksekutif mempunyai beberapa aspek. Pertama adalah peran sebagai entrepreneur, yang mencari peluang dan inisiator untuk memulai program-program yang memberikan dampak perubahan positif bagi perusahaan. Kedua, adalah peran sebagai disturbance handler, yang bertanggungjawab untuk melakukan tindakan koreksi pada saat perusahaan mengalami kesulitan, terutama dalam kondisi kritis dan tak terduga.. Ketiga, peran sebagai resources allocator, yang bertanggungjawab mengalokasikan sumber daya untuk berbagai kepentingan. Keempat, perannya sebagai negosiator, yang bertanggungjawab untuk mewakili perusahaan dalam berbagai proses negosiasi, baik dalam kaitannya dengan karyawan internal maupun dalam suatu negosiasi antar organisasi.
Peran lain dari seorang eksekutif adalah peran interpersonal dan peran informasional. Dalam peran interpersonal meliputi peran sebagai figurehead, sebagai leader, dan sebagai liasion. Peran sebagai figurehead menempatkannya sebagai pemimpin simbolis yang mewakili perusahaan dalam acara-acara resmi, sosial, dan legal. Peran sebagai leader mengharuskannya untuk memimpin, mengarahkan, dan memotivasi bawahan. Sedangkan perannya sebagai liaison menuntutnya untuk membentuk jejaring (network) dengan pihak internal, maupun ekstrenal organisasi.
Peran informasional mensyaratkan eksekutif untuk melaksanakan tiga fungsi yaitu memantau (monitoring), disseminator, dan spokesperson. Dalam monitoring eksekutifdiharapkan untukmereview informasi dari kalangan internal maupun eksternal. Sebagai disseminator, eksekutif wajib untuk mendistribusikan informasi dari pihak eksternal maupun dari level manajemen yang lebih tinggi. Di samping itu eksekutif juga harus bertindak sebagai spokes person yang menyampaikan informasi kepada pihak di luar perusahaan.
Berbagai peran untuk eksekutif di atas, tampaknya tidak mungkin dituangkan dalam job description. Tetapi peran tersebut harus tetap diemban dengan baik, sehingga dibutuhkan penghayatan peran (role awareness) yang tepat. Dan kesuksesan menanti Anda sebagai ‘orang kedua’. Jika situasi memungkinkan Anda akan menjadi orang yang pertama, melalui kerelaan menjadi orang kedua.

Sumber : Male Emporium

Pada masa awal kemerdekaan kita mengenal dwi tunggal Soekarno – Hatta, yang menurut sementara orang dipandang sebagai pasangan yang ideal. Soekarno sebagai soldarity maker, high profile, menggelora mempesonakan khalayak dengan ikatan emosional, sedangkan Moh. Hatta yang bertipe administratif, kalem, kelihatan rasional dan cenderung tidak terlalu ingin menonjol. Sayang pada akhirnya pasangan ini tidak bertahan untuk seterusnya. Namun hal masih lebih baik dibandingkan pasangan Mahathir-Anwar yang berakhir dengan rivalitas dan perseteruan politik. Sementara itu, pasangan Reagan-Bush, berakhir dengan happy ending. Ketika Reagan harus turun karena telah memegang dua kali jabatan, dengan mulus Reagan menyerahkan tongkat estafet kepada Bush.
Dalam merintis karir mungkin Anda akan berpikir untruk menjadi orang nomer satu dalam organisasi, seperti kata pepatah gantungkan cita-citamu setinggi langit. Cita-cita ini sama sekali tidak salah. Katakanlah setelah beberapa lama menekuni, karir di sebuah perusahaan dan Anda merasa jalan menjadi orang pertama terasa terjal dan berliku, dan kenyataan hanya satu orang anggota diantara ratusan bahkan ribuan anggota organisasi yang dapat menduduki posisi ini, Anda memutuskan membuka usaha sendiri agar menjadi orang pertama. Tentu ini langkah yang sangat bagus bagi karir Anda.
Namun jika Anda berpikir untuk menekuni di perusahaan yang sama, Anda mesti menyadari bahwa di dalam organisasi orang pertama hanya satu orang, dan Anda harus rela menjadi orang kedua. Bahkan jalan untuk menjadi orang pertama, acap mesti rela dahulu menjadi orang kedua.
Menjadi orang kedua tidak lebih mudah menjadi orang pertama, termasuk di dalamnya adalah bagaimana mengendalikan ego. Khalayak acapkali bertindak kurang adil, mereka hanya mengenal “orang nomor satu” dan mengelu-elukan sebagai bintang seolah-olah kontribusi mereka sebagai “orang kedua” tidak pernah ada. Henaan dan Bennis menemukan banyak “orang kedua” yang kontribusinya besar terhadap organisasi, tetapi sepi dari publisitas dan tenggelam dalam bayang-bayang popularitas “orang nomor satu” . Kita tentu akrab dengan Bill Gates si maharaja dalam dunia cyber. Di balik kesuksesan Bill Gates menakhkodai Microsoft, tak lepas dari dukungan orang keduanya, Steve Balmer, yang sama sekali asing buat kita. Apa boleh buat ‘orang kedua” harus menyesuaikan dengan kenyataan ini, dan mengendalikan egonya untuk menjadi orang yang tidak terkenal. Beberapa nama dalam bidang lain dapat pula kita sebut, seperti Chou En-lai disamping Ketua Mao, si pendiri Republik Rakyat Cina. Atau Win Smith di samping CEO Merril Lynch, Charlie Merrill.
Bagaimana memanajemeni “ego” – ego sendiri maupun ego sang bos-merupakan masalah utama untuk menjadi “orang kedua” yang baik. Langkah awal yang harus diperhatikan bagi “orang kedua” adalah mengenal dengan baik egonya sendiri, lantas memahami ego sang bos, dan menciptakan harmoni untuk meghindari clash of titan. Ingat sebagai bos, orang nomor satu mempunyai power untuk merubah kebiasaan yang ada, sementara anda tidak. Berikan ‘bos’ apa yang dibutuhkan dan diinginkan, tanpa “menjual’ jiwa anda, karena anda punya gagasan, pikiran, dan kehidupan pribadi sendiri. Tidak semua tindakan harus diartikan demi “orang nomor satu”. Temukan kebutuhan perusahaan, dan penuhi. Beri keseimbangan antara leadership dan followership. Temukan jalan anda sendiri, dan suatu saat dapat berkata “tidak” jika situasi memang menharuskan demikian. Definisikan juga apa makna kesuksesan bagi anda.
Dalam sebuah organisasi acapkali dibutuhkan seorang dirigen, tokoh kharismatik, seorang bintang, yang dielu-elukan keberadaannya dan “bertugas” mengarahkan gerak seluruh organisasi. Tapi seorang dirigen bukanlah seorang soloist. Mereka membutuhkan sekelompok “orang kedua” yang akan menopangnya. Orang-orang kedua yang tangguh ini harus ditumbuhkan dalam organisasi, melalui kultur co-leadership.
Lantas bagaimana menjadi orang kedua dalam konteks yang terakhir ? Yang paling penting adalah bagaimana menghayati peran Anda dalam organisasi (role awareness). Jika Anda seorang eksekutif (tetapi kebetulan tidak didapuk sebagai orang pertama) peran utamanya adalah sebagai pengambil keputusan. Bukankah asal kata executive dari kata execute.
Peran pengambil keputusan yang harus diemban seorang eksekutif mempunyai beberapa aspek. Pertama adalah peran sebagai entrepreneur, yang mencari peluang dan inisiator untuk memulai program-program yang memberikan dampak perubahan positif bagi perusahaan. Kedua, adalah peran sebagai disturbance handler, yang bertanggungjawab untuk melakukan tindakan koreksi pada saat perusahaan mengalami kesulitan, terutama dalam kondisi kritis dan tak terduga.. Ketiga, peran sebagai resources allocator, yang bertanggungjawab mengalokasikan sumber daya untuk berbagai kepentingan. Keempat, perannya sebagai negosiator, yang bertanggungjawab untuk mewakili perusahaan dalam berbagai proses negosiasi, baik dalam kaitannya dengan karyawan internal maupun dalam suatu negosiasi antar organisasi.
Peran lain dari seorang eksekutif adalah peran interpersonal dan peran informasional. Dalam peran interpersonal meliputi peran sebagai figurehead, sebagai leader, dan sebagai liasion. Peran sebagai figurehead menempatkannya sebagai pemimpin simbolis yang mewakili perusahaan dalam acara-acara resmi, sosial, dan legal. Peran sebagai leader mengharuskannya untuk memimpin, mengarahkan, dan memotivasi bawahan. Sedangkan perannya sebagai liaison menuntutnya untuk membentuk jejaring (network) dengan pihak internal, maupun ekstrenal organisasi.
Peran informasional mensyaratkan eksekutif untuk melaksanakan tiga fungsi yaitu memantau (monitoring), disseminator, dan spokesperson. Dalam monitoring eksekutifdiharapkan untukmereview informasi dari kalangan internal maupun eksternal. Sebagai disseminator, eksekutif wajib untuk mendistribusikan informasi dari pihak eksternal maupun dari level manajemen yang lebih tinggi. Di samping itu eksekutif juga harus bertindak sebagai spokes person yang menyampaikan informasi kepada pihak di luar perusahaan.
Berbagai peran untuk eksekutif di atas, tampaknya tidak mungkin dituangkan dalam job description. Tetapi peran tersebut harus tetap diemban dengan baik, sehingga dibutuhkan penghayatan peran (role awareness) yang tepat. Dan kesuksesan menanti Anda sebagai ‘orang kedua’. Jika situasi memungkinkan Anda akan menjadi orang yang pertama, melalui kerelaan menjadi orang kedua.

Sumber : Male Emporium

Maret 1, 2011 - Posted by | Inspirasi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: