PT IMS Logistics Blog

Automating Supply Chain

Pemimpin yang Menginspirasi


Seorang pemimpin harus bisa menjadi pemimpin yang menginspirasi atau inspiring leader.

Inspirasi dibutuhkan oleh bawahan untuk memacu semangat mereka dan bergairah sekali untuk mencapai tujuan / target walaupun tekanan yang dihadapi cukup berat sementara imbalan yang diinginkan belum bisa diterima sebelum tujuan tersebut tercapai.

Contoh:

Lee Kuan Yew.

Setelah Singapura merdeka, Lee memiliki pekerjaan rumah yang sangat banyak untuk mengubah Singapura yang berantakan dan miskin pada waktu itu. Pada tahun 1965-an dia harus berjalan 2 KM untuk menimba air dan membawanya pulang ke rumah untuk kebutuhan keluarga. Bahkan pada masa itu, menemukan mayat di pinggir jalan di Singapura bukanlah hal yang aneh. Lalu Bagaimana Singapura bisa menjadi demikian maju seperti sekarang? Jawabannya adalah inspirasi dari Lee Kuan Yew. Perdana Menteri Lee Kuan Yew menyadari bahwa rakyat Singapura yang tidak tertata membutuhkan arah. Dan, arah yang diberikan oleh PM Lee adalah bahwa Singapura harus memiliki standar kehidupan yang sama seperti Swiss. Tentu saja rakyat Singapura pada waktu itu tidak paham apa yang dimaksud oleh perdana menteri mereka. Maka Lee Kuan Yew pun membagi-bagikan kartu pos kepada seluruh rakyat Singapura. Pada kartu pos tersebut tertera gambar-gambar indah seperti taman yang hijau, sungai yang bersij, makanan yang lezat, orang-orang yang berbaju rapi serta anak-anak yang bergembira ria. Semua itu adalah gambar-gambar mengenai kehidupan di Swiss. lalu Lee Kuan Yew pun mengajak seluruh Masyarakat Singapura untuk mewujudkan impian tersebut melalui disiplin dan kerja keras. Rakyat  Singapura yang tidak menerima imbalan langsung apa pun siap melalui perjalanan panjang tersebut karena terinspirasi. Dan pada pergantian millenium lalu, seluruh rakyat Singapura turun ke jalan-jalan utama dan meneriakan, ” We have arrived!”  Karena mereka sudah mencapai impian yang mereka canangkan tiga puluh lima tahun yang lalu.

Inspirasi adalah merupakan bentuk perpindahan energi dari satu orang pemimpin kepada orang-orang yang mengikutinya.

PENCIPTAAN ENERGI.

Seorang pemimpin perlu menemukan energi bagi dirinya agar ia bisa menularkan energi tersebut kepada orang lain yang mengikutinya. Pemimpin memiliki sebuah impian atau VISI, itulah yang menyemangati dirinya karena dia sudah melihat tujuan yang hendak dicapai. Kalau seorang pemimpin tidak memiliki visi, dengan berkomunikasi dengan para pengikutnya, ia bisa memahami perkataan hati mereka, maka seorang pemimpin akan bisa menemukan visi tersebut.

PENULARAN ENERGI.

Setelah memiliki energi untuk dirinya, maka dia harus bisa menularkan energi tersebut ke bawahannya. Untuk itu, dia harus bisa mencertiakan (mengkomunikasikan) negeri impian yang hendak dicapai dengan bahasa yang memotivasi.

Ada dua hal yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin.

1. Dia harus paham betul alasan-alasan mengapa impian itu harus diraih bersama-sama, termasuk impian dan harapan dari para pengikutnya.

2. Pemimpin harus bisa menjelaskan negeri impian tersebut dalam bahasa yang paling mudah dipahami oleh para pengikutnya. Semakin para pengikutnya tersebut bisa memiliki gambaran (memvisualisasikan) mengenai impian yang diceritakan tersebut, semakin kuat mereka bisa memotivasi diri mereka sendiri.

PELESTARIAN ENERGI.

Energi yang sudah ditularkan kepada bawahan tersebut harus dilestarikan agar tidak menjadi pudar dan kemudian lenyap. Meskipun tidak terjadi hal-hal yang fantastis dalam tahap pelestarian energi ini, namun pada tahap inilah seorang pemimpin benar2 diuji apakah ia seorang yang menginspirasi atau tidak. Agar bisa melestarikan energi dan bahkan meningkatkan kadar energi yang sudah dimiliki para pengikutnya, seorang pemimpin paling tidak harus bisa mendemonstrasikan tiga hal:

1. INTEGRITAS.

Kesesuaian antara apa yang dilakukannya dengan kemajuan untuk mewujudkan impian dan visi tersebut.  Bila apa yang ia lakukan tidak membuat impian dan visi yang dikatakannya semakin mendekati kenyataan, maka pemimpin tersebut dinilai tidak memiliki integritas oleh para pengikutnya.

2. HUMBLE.

Seorang pemimpin harus memiliki kerendahan hati.  Sekalipun seseorang memiliki visi yang kuat, kemampuan memotivasi yang tinggi serta integritas yang tidak diragukan, bila ia arogan dan terlebih lagi tidak mau mendegarkan para pengikutnya, maka lambat laun para pengikutnya akan merasa frustasi karena merasa hanya diperlakukan sebagai obyek yang hanya memuaskan keinginan sang pemimpin tanpa diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya.

3. HUMANITY

Pemimpin harus tetap sadar bahwa pengikutnya adalah manusia biasa. Mereka bisa kelaparan, kelelahan, sakit, marah, kecewa, atau kehilangan keyakinan.

Mei 6, 2010 - Posted by | Inspirasi | , , , ,

2 Komentar »

  1. sangat menarik pak..
    mau ijin copas di blog saya ya…

    Komentar oleh Dwi Aryssandhy | Juli 28, 2010 | Balas

  2. silahkan pak. Terima kasih atas ketertarikan bapak.

    Komentar oleh WJ | Juli 28, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: